Nonton Pesawat

Selain kereta api, kegiatan lain yang menarik adalah nonton pesawat terbang.

Pesawat berlari melakukan ancang-ancang. Pesawat mulai melayang. Pesawat naik semakin tinggi sambil meliuk tajam.

Atau.

Pesawat menjulurkan kaki. Pesawat terengah menahan laju. Pesawat berjalan pelan mencari tempat parkir.

Lucu.

Baru beberapa hari lalu, pengaturan peta tempat nonton pesawat di sekitar bandara Adisucipto Yogyakarta saya buka untuk umum. Untuk lokasi bandara lain, petanya masih disembunyikan.

Continue reading

Mendaftar Pindah TPS di Hari-Hari Terakhir

Tidak sedikit warga perantauan yang bingung menjelang Pilpres kali ini. Terdaftar sebagai pemilih sesuai alamat KTP, tapi tinggal di daerah lain.

Solusi yang saya peroleh beberapa hari terakhir ini ada 2 macam:
1. Mencabut berkas A5 dari Panitia Pemunguta Suara (PPS) di mana terdaftar sebagai pemilih, lalu menyerahkan ke PPS terdekat sesuai domisili saat ini.
2. Membuat surat keterangan tinggal sementara melalui pengurus RT, lalu mendaftar sebagai pemilih tambahan di PPS setempat. (Yang nomor 2 ini saya masih belum jelas prosedurnya.)

Namun yang saya lakukan seperti ini:
Continue reading

Kula Siram

Dulu ada teman yang iseng membuat lucu-lucuan. Tapi akhirnya malah menjadi tidak lucu sama sekali.

Dia meminta saya menerjemahkan kalimat berikut ke dalam bahasa Jawa yang halus:
“Bapak membaca koran, sedangkan saya mandi.”

Maka saya terjemahkan seperti ini:
“Bapak maos koran, kula adus.”

Dia tidak terima, katanya seharusnya begini:
“Bapak maos koran, kula siram.”

Maksud lucunya adalah dia merasa kalimat tersebut menjadi ambigu:
1. “siram” yang berarti “mandi”
2. “siram” yang berarti “mengguyur air”

Sebagai orang Jawa, saya yakin kalimat tersebut salah. Kata “siram” (mandi) tidak boleh digunakan oleh orang pertama, apalagi orang pertama adalah anak dan orang kedua-ketiga adalah orang tua. Etika dalam berbahasa Jawa adalah tidak boleh mengagungkan diri-sendiri.

Teman saya tersebut memang bukan orang Jawa, wajar jika belum tahu. Rupanya dia memperoleh kalimat tersebut dari temannya yang lain, yang ternyata malah orang Jawa! Waduh!

Sampun nggih, sampun sayah, kula badhé saré rumiyin.
(Saré gundhulmu, Lé!)